Translate

Kamis, 12 Mei 2016

ALAM = IBU (Ekologi Dalam Perspekltif Hindu)






Image result for ALAM BALI


Sebagai agama tertua dan tetap eksis dianut oleh manusia hingga saat ini, hindu telah mengalami sangat banyak cobaan dan tantangan sekaligus pembuktian-pembuktian apa yang ada dalam teksnya tidak serta merta merupakan dogma-dogma, melainkan sbebuah nilai kebenaran yang sudah ribuan tahun teruji kebenarannya. Sebagai agama dengan konsep terbesar dan memiliki dua buah bidang keilmuan baik spiritual maupun ilmu pengetahuan sains tentu saja hindu memilik pandangan-pandangan yang berkaitan dengan alam seperti halnya bidang ekologi.
Kebanyakan orang barat berpandangan antroposentris yang menyatakan manusia sebagai pusat alam sehingga apa saja yang ada di alam harus tunduk di tangan manusia, dengan pandangan ini mereka menghalalkan segala bentuk eksploitasi alam dan berusaha untuk menguasai alam di bawah tangannya sendiri. Dengasn demikian mereka dapat meraup untung yang sebanyak-banyaknya dari kegiatan mengeksploitasi alam tersebut. Mereka hamper tidak memperhatikan dampak apa yang terjadi dengan adanya eksploitasi besar-besaran terhadap alam.
Berbeda dengan pandangan barat Hindu memandang bahwa hidup sebagai manusia, kita hendaknya mampu untuk berteman dengan alam, sebab alam telah berbaik hati dengan menyediakan segala kebutuhan manusia, apa yang kita butuhkan, baik makanan, minuman, peralatan sejatinya telah disediakan bahan-bahannya oleh alam. Kita hanya bertugas mengolahnya sesuai dengan kebutuhan kita, bukan malah menguasai dan menakhlukkan alam yang sudah sejati baik kepada kita. Hindu mengajarkan kita untuk melayani alam. Hal ini tidaklah aneh jika kita mesti melayani alam, sebab begitu banyaknya manfaat dan kita memanfaatkan alam, kita harus melayani alam sebagai ucapan terimakasih kita terhadapnya. Mungkin akan muncul pertanyaan dengan apa kita melayani alam, dalam konsep Hindu kita mampu melayani alam dengan yadnya.
Konsep tentang ekologi dalam Hindu dituangkan dalam beberapa kitab, utamanya dalam Atharva Veda  Mandala XII tentang  Prtivi Sukta, terkait antara ekologi dan hubungannya serta sikap manusia yang ideal terhadap alam semesta. Jika di dilihat lebih jauh hubungan manusia dengan alam atau lingkungan lebih-lebih dengan alam semesta dapat dijelaskan dalam  Rg Veda I.1.9 yang menyatakan:

Sa nah piteva sunave
‘gne supayano bhava,
Sucasvanah svastaye
Artinya:
            Izinkan kami mendekatimu dengan mudah, seperti ayah kepada anaknya;
            Semoga engkau senantiasa bersama kami.
           
            Mata Bhumih putro’ham prtivyah (Atharva Veda XII.1.12)
Artinya :
            Bumi adalah ibuku dan aku adalah anaknya.
Bagaimana dalam konsep ini, Hindu menganggap bahwa sesungguhnya alam semesta ini adalah orang tua bagi mereka, dimana angkasa merupakan ayahnya sementara bumi dikatakan sebagai ibu sehingga muncul istilah ibu pertivi. Hal ini senada dengan apa yang dijabarkan Donder (2007: 218) pada sesungguhnya manusia sejak lahir memiliki 4 macam ibu yakni: ibu yang melahirkan, ibu pertivi (bumi), ibu sapi dan ibu acarya. Ibu yang melahirkarkan muthlak harus dihormati karena beliau merupakan perwakilan Tuhan di muka bumi dengan jasanya telah mengandung selama 9 bulan tidak dapat ditebus walaupun telah membuat sumur seratus, jasanya hanya dapat ditebus dengan merawat anak-anaknya kelak. Seorang anak begitu dilahirkan akan diterima oleh ibu pertivi. Sejak lahir hingga meninggal manusia disangga oleh bumi, dalam keadaan tidur, jongkok,duduk  dan dalam keadaan jatuh tersungkur sekalipun bumi tidak pernah melepaskan manusia dari tumpuannya.
Osadhir iti mataras-tad
Vo devir-upa bruve. (Rgveda X.97.4)
Artinya:
Tanam-tanaman memberi makan dan melindungi alam semesta, oleh karenanya mereka disebut para ibu.
            Tidak hanya Bumi yang menjadi tempat kita berpijak yang disebut ibu di alam ini, tetapi disebutkan dal Rg Veda di atas tumbuh-tumbuhanpun disebut sebagai ibu, karena mereka menyediakan makanan dan telah melindungi alam semesta.
            Indra ya dyava osadhir uta-apah,
Rayim raksanti jirayo vanani (Rgveda III.51.5).
Artinya:
Yang berikut ini adalah para pelindung kekayaan alam: atmosfir, tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat, sungai-sungai, sungai kecil-kecil, sumber-sumber air dan hutan-hutan  blantara.
            Virudho vaisvadevir-ugrah purusajivanih (Atharvaveda VIII.7.4).
Artinya:
Tanam-tanaman memiliki sifat-sifat semua para dewa. Mereka adalah para juru selamat kemanusian.
Hendaknya perlu kita ketahui, sesungguhnya alam telah melindungi dan sebagai juru selamat bagi kita, pertama kita contohkan dari air, air mampu melindungi kita dari kehausan, kita melakukan suatu metabolisme dalam tubuh memerlukan banyak air, air juga mampu membersihkan kekotoran-kekotoran yang melekat pada badan kita. Pepohonan sangat berperan dalam menjaga dan menyediakan oksigen kepada kita di udara, bagaimana tumbuhan memiliki tugas dan kemampuan untuk menyerap gas karbon dioksida hasil pernafasan (respirasi) hewan dan manusia, selain itu tumbuhan juga menyerap gas-gas yang bersifat racun yang berasal dari sisa-sisa pembakaran fosil seperti gas yan dihasilkan pada mesin-mesin bermotor, tidak hanya itu hutan sebagai paru-paru dunia yang menghasilkan oksigen untuk makhluk di bumi juga menjaga dan menstabilkan suhu di bumi agar bumi tetap menjadi dingin. Dalam hutan juga dihasilkan zat ozon yang melindungi bumi dari terik panas cahaya matahari secara langsung. Ozon ini ibarat sebuah filter cahaya yang masuk ke bumi agar semua cahaya yang masuk ke bumi aman bagi semua makhluk yang tinggal di bumi.
"Prthivim drmha, Prthivim ma himsih" (Mait ra yani Samhita. II.8.14)
Artinya:
Selalulah memperkuat dan memberikan makan kepada bumi. Janganlah mencemarinnya.
Begitu besar jasa alam bagi manusia, tidak salah jika kita semestinya sangat menghormati alam semesta ini dan menjadikannya sebagai ibu kita sendiri. Kita diharapkan untuk tiak mencemari ala mini, sebab perbuatan itu sama saja artinya dengan durhaka kepada ibu kita sendiri yang berakibat ibu kita marah ,maka bencanapun akan ikut melanda kita dari banjir, longsor, tsunami hingga global warming. Ini semua sesungguhnya berasal dari kieangkuhan sikap manusia yang ingin menguasai alam ini dan mengeksploitasinya demi kepentingan pribadi.  
Annaad bhavanti bhuutaani.
Prajnyaad annasambhavad.
Yadnyad bhavati parjanyo
Yadnyah karma samudbhavad. (Bhagavad Gita.III.14)
Artinya:
Makhluk hidup berasal dari makanan. Makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan berasal dari hujan. Hujan berasal dari yadnya. Yadnya itu adalah karma.
            Sesungguhnya sebagai manusia kita harus mampu berbuat yadnya untuk kebaikan semesta ini, seperti dalam sloka diatas bagaimana kita diberikan gambaran, bahwa dari yadnyalah hujan itu timbul, dari hujan  tumbuh-tumbuhan mampu hidup dan seterusnya. Maka dari itu kita harus beryadnya untuk kelangsungan alam kita ini. Yadnya secara tidak langsung merupakan makanan bagi alam semesta ini.
            Terkait dengan yadnya di Bali terdapat tradisi tumpek bubuh untuk menghormati tumbuh-tumbuhan ini, upacara ini sering disebut dengan ngatag. Tupek Bubuh jatuh pada hari sabtu kliwon wuku wariga, tepat 25 hari sebelum perayaan galungan. Sesungguhnya upacara ini merupakan suatu persembahan kepada Sang Hyang Sangkara yang merupakan dewanya Tumbuh-tumbuhan. Secara awam masyarakat Bali mengarapkan dengan upacara ini tumbuhan mereka nantinya akan berbual lebat dan dapat dimanfaatkan sebagai mana mestinya. Dalam upacara tumpek bubuh ini tergolong sangat unik, masyarakat Bali membuat semacam bubur (bubuh) yang diibaratkan sebagai sebuah makanan bagi para tumbuhan. Mantra yang digunakan sangat berbeda dengan mantra-mantra yang lain, sebab menggunakan bahasa Bali. Yandnya ini sesungguhnya merupakan sebuah implementasi dari ajaran filsafah orang Hindu di Indonesia yang selalu ingin menyelaraskan dirinya.
            Keselarasan merupakan suatu yang sangat dicita-citakan oleh masyarakat Hindu, konsep masyarakat Hindu di Indonesia khusunya di Bali mengenal istilah Tri Hita Karana, yang dimulai dari menyelaraskan antara manusia dengan Tuhan secara spiritual (parhyangan), menyelaraskan manusia dengan manusia lain secara social (pawongan) dan di bidang ekologi bagaimana menyelaraskan antara manusia dengan lingkungan disekitarnya (palemahan), sebab lingkungan sekitar manusia sangat berpengaruh bagi manusia itu sendiri. Berdasarkan uraian di aatas jelas dapat kita lihat bagian dalam Tri Hita Karana yang menyangkut masalah lingkungan adalah bagian palemahan. Konsep masyarakat Bali memandang alam lingkungan merupakan satu kesatuan antara Tuhan sebagai pencipta (Praja Pati), manusia dan alam semesta sebagai ciptaanNya. Dan kesemuannya itu dapat saling mempengaruhi.
            Masyarakat Bali sesungguhnya memiliki pemikiran yang sudah tergolong sangat maju, dari zaman dahulu masyarakat Bali nampaknya sudah mengetahuai nantinya akan terjadi suatu perubahan-perubahan yang mengarah pada kerusakan-kerusakan lingkungan. Hal ini ditandai dengan adanya upaya untuk mangantisipasi segala bentuk kerusakan tersebut yang dirumuskan dalam sad kertih. Sad Kertih merupakan sebuah konsep untuk menjaga dan memperbaiki lingkungan berdasarkan konsep Hindu  yang terdiri dari 6 komponen seperti :
1.      Wana Kertih, adalah suatu konsep wawasan mengenai fungsi hutan yang sangat luas dan komplek. Demikian banyak dan pentingnya fungsi hutan seperti, mengatur tata air (hidroorologis), menjaga ekositem dan menyediakan berbagai tumbuhan dan kayu untuk berbagai kebutuhan hidup. Dalam tradisi masyarakat Bali dikenal beberapa jenis hutan sesuai peruntukannya yaitu:
a.       Alas Angker, yaitu hutan Tutupan/hutan lindung yang tidak boleh diutak-atik; seperti hutang yang berada di sepanjang gunung Abang-Agung.
b.      Alas Kekeran, yaitu hutan yang diperuntukan untuk melindungi suatu kawasan suci atau tempat pemujaan umat (hutan milik pura/ adat); hutan ini dapat kita temukan di daerah Sangeh, Lempuyang, Andakasa dan lainnya
c.       Alas Rasmini, yaitu hutan produksi, yang bisa diambil kayunya tetapi harus tetap memperhatikan kelestariannya; seperti hutan jati yang ada di jawa.
d.       Alas Arum, yaitu merupakan kawasan penyangga atau kawasan budidaya (agrowisata) seperti yang ada di Bedugul.
Aplikasi dari konsep Wana Kertih yaitu upacara Mepekelem (korban suci/yadnya), di gunung/hutan yang bermakna menumbuhkan rasa cinta dan selalu menjaga kelestarian hutan.
2.      Samudra Kertih, yaitu konsep pemahaman kawasan kesamudraan atau kawasan maritim. Laut dipandang sebagai sesuatu yang sangat keramat dan merupakan sumber kehidupan. Karena adanya laut akan menimbulkan hujan, merupakan tempat hidup flora dan fauna dan menciptakan iklim yang kondusip bagi kehidupan, maka senantiasa harus dijaga kebersihannya jangan sampai tercemar. Hal ini di aplikasikan dalam kehidupan beragama oleh masyarakat di Bali dengan upacara Mapekelem, yang mempunyai makna memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Dewa Bharuna sebagai penjaga samudra, semoga kehidupan di laut berjalal dengan baik.
3.      Danu Kertih, yaitu konsep menumbuhkan wawasan untuk memahami fungsi sumber mata air seperti danau, sungai, kolam/empang dan lainnya. Air merupakan sumber kehidupan yang mengalir dari gunung dan tertampung di danau, mengalir lewat mata air dan sungai. Oleh karena itu senantiasa harus dijaga kelestariannya jangan sampai kering atau tercemar. Hal ini direalisasikan dalam bentuk upakara yang disebut Mulang Pekelem di danau. Tujuannya jangan sampai ada yang secara sengaja/tidak sengaja merusak dan mencemari kelestarian danau, mata air, sungai dan sumber mata air lainnya.
4.      Jagat Kerti, yaitu konsep menumbuhkan wawasan untuk selalu hidup harmonis dan dinamismdalam kehidupan bersama dalam masyarakat (paras paros selulung sebayantaka).
5.      Jana Kertih, yaitu merupaka motivasi untuk selalu menjaga dan menciptakan suasana hati yang harmonis dalam diri sendri.
6.      Atma Kertih, yaitu membangun kondisi dimana setiap orang mampu mengeksistensikan kesucian atmannya, sebagai unsur yang paling suci dalam dirinya.
Tidak hanya dalam sebuah konsep semata dalam penerapannya masyarat bali menggunakan sebuah sistem yang dikenal dengan istilah subak di dalam sebuah desa pakraman. Subak inilah yang berperan mengatur dan mengelola alam di suatu desa tersebut yang tentunya tidak bertentangan dengan konsep palemahan yang selalu bersinergi dengan alam. Di luar sana mungkin orang lain akan mengira subak hanya sebuah sistem pengaturan air dalam sawah semata, tetapi sesungguhnya subak lebih dari itu, dan mereka jarang yang mengetahui subak juga terbentuk untuk mengelola lahan kering yang disebut dengan sebak abian. Dengan adanya ke dua macam subak ini sesungguhnya sangat berperan dalam menjaga dan mengelola lingkungan hidup masyarakat di Bali agar tetap lestari dan dimanfaatklan sesuai dengan kebutuhan. Disamping Subak, pihak desa pekraman juga memiliki andil yang sangat besar, karena tidak jaramg juga terdapat desa pakraman yang mengatur tentang pelestarian di daerah lingkungannya.
Dengan  jika manusia mau menjaga alam nantinya akan ada timbal balik dari alam yang senantiasa akan menjaga manusia pula, seperti halnya seorang anak yang menjaga orang tuanya dan orang tua yang sedang menjaga anaknya. Manusia semestinya didak berbuat serakah yang ingin menguasai alam, tetapi semestinya manusia mampu berteman dan hormat kepada alam sebab alam adalah ibu dari semua manusia itu sendiri. Bagaimana sesungguhnya alam melindungi kita dari bahaya yang tidak pernah ketahui layaknya seorang ibu melindungi anaknya.

Refrensi :
Mantik, Agus S. 2007. Bhagavad Gita. Surabaya: Paramita
Donder, I Ketut. 2007. Kosmologi Hindu. Surabaya: Paramita
Sakala Sakha. Tanpa Tahun. Veda Sruti Rg.Veda Samhita Mandala I, II dan III. Terjemahan oleh I Wayan Maswinara. 1999. Surabaya: Paramita
Titib, I Made. 2004. Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Paramita

radheyasuta.blogspot.com/2012/07/tumpek-wariga-monumental-hari-bumi.html?m=1
cybex.deptan.go.id/gerbanglokal/kearifan-lokal-masyarakat-bali-dalam-pelestarian-lingkungan-hidup
http://balirecycling.com/gunung-danau-sungai-hutan-laut/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar